Rabu, 04 Mei 2011

Masa kecil



Anak unggulan pasti jadi dambaan tiap orang tua. Unggul di luar, unggul di dalam. Luar, jika dinilai dari bentuk fisik dan kesehatannya. Dan dalam, diukur dari tingkat kecerdasan dan kesalehannya.

Memang, ada keunggulan-keunggulan yang mesti diupayakan. Bisa dari gizi, lingkungan rumah, dan mutu pendidikan. Tapi, ada juga yang memang ’sudah dari sananya’. Begitu orang tua di saat kecil, begitu pula keadaan sang anak. Jadi, nggak usah heran jika anak berperilaku rewel. Karena boleh jadi, begitulah keadaan ayah atau ibunya ketika kecil.

Masalahnya, dari pihak mana sifat rewel itu muncul. Dari ibu, atau dari ayah. Karena umumnya, orang cuma mengakui sifat turunan positif. Dan melupakan semua yang negatif. Motonya sederhana, "Rewel? Nggak pernah tuh!" Rasa itulah yang kini dialami Bu Heni.

Ibu tiga anak ini kadang dibuat bingung sama anak ketiganya. Walau baru berusia tiga tahun, ulah si bungsu bisa mengalahkan dua kakaknya yang sudah di TK dan SD. Cuma sayangnya, kelebihannya justru pada yang negatif: hobi menangis, susah diatur, dan sering berperilaku kurang bersih.

Bayangkan, si bungsu bisa menangis melebihi rata-rata kakaknya. Kalau kakaknya menangis paling lama setengah jam di usia yang sama, si bungsu bisa hampir sepuluh kali lipat. Jadi, kalau si bungsu mulai merengek dan menangis di saat film India baru mulai, menangisnya baru akan usai ketika film hampir habis. Hampir tiga jam, Bu Heni ’dipaksa’ menyimak ekspresi duka si bungsu.

Belum lagi urusan makan. Di yang satu ini, kapasitas tidak berbanding lurus dengan usia. Biar usia beda dua dan empat tahun, soal jatah makan tetap sama. Kalau si kakak dapat satu mangkuk bubur ayam, begitu pun dengan si bungsu. Kalau kakak-kakaknya satu gelas es teler, begitu pun ukuran minimal buat si bungsu. Beda umur, satu takaran.

Kadang Bu Heni bingung sendiri. Kok yang satu ini beda banget sama yang lain. "Lebih merepotkan. Kira-kira mirip siapa ya?" batin Bu Heni berbisik pelan. Bu Heni mulai menerawang. Sejauh itu, Bu Heni sangat yakin kalau masa kecilnya tak seperti si bungsu. Ibunya pernah cerita kalau dulu ia begitu kalem, jarang nangis, juga penurut. Kalau si bungsu tidak mirip dia, siapa lagi yang patut dituduhkan kalau bukan suami Bu Heni.

Mas kecilnya rewel, ya?" tanya Bu Heni suatu kali. Suaminya cuma bisa ngasih senyum. Itulah mungkin tanda setuju yang paling lembut dari seorang suami. Sekali lagi, mungkin! Sepertinya, suami Bu Heni tak mau menyoal urusan masa kecil. Kalau toh si bungsu memang mirip dengan ayahnya di waktu kecil, apa yang salah? Toh. ia memang ayah kandungnya. Beberapa tahun ke depan pun, sang anak akan berubah. Jadi, kenapa mesti dibicarakan.

Tapi. Bu Heni masih tetap penasaran. Ia baru benar-benar yakin ketika itu mertuanya cerita soal suaminya waktu kecil. "Suamimu dulunya memang rewel. Uh, rewel sekali! Udah gitu. makannya juga banyak. ungkap ibu mertuanya suatu kali. "Tapi," lanjut sang ibu mertua. "Anak laki semata wayang ibu itu selalu mandi tepat waktu!" ujar ibu mertua Bu Heni menambahkan.

Kalimat terakhir itu, dipahami Bu Heni sebagai penyeimbang. Supaya Bu Heni melihat sisi positifnya. Sampai di situ, Bu Heni sangat setuju. Karena hingga kini pun, suaminya memang selalu tampil perlente: rapi, bersih, dan wangi. Kalau harus dikasih pilihan sewaktu pulang kerja: makan dulu atau mandi dulu? Bu Heni yakin, suaminya pasti memilih mandi dulu.

Yang jadi pertanyaan, dari mana si bungsu bisa berperilaku kurang bersih: susah mandi, sering main tanah, dan pipis sembarangan. Kalau soal itu, Bu Heni jadi tersudut sendiri. Jangan-jangan….

"Kamu dulu memang suka jorok, Hen!" ucap ibu kandung Bu Heni suatu hari. Tentu saja, ucapan sang ibu menyentak hati Bu Heni. Jorok gimana? "Maksud ibu, jorok gimana?" tanya Bu Heni agak kaget. Tapi, yang ditanya cuma senyum. "Apa Heni dulu jarang mandi, Bu?" tanya Bu Heni ke ibunya. "Tidak! Sering kok!" jawab sang ibu. "Apa Heni dulu sering pipis sembarangan, Bu?" tanya Bu Heni lagi membandingkan dengan si bungsu. "Nggak!" tegas sang ibu menihilkan kecurigaan Bu Heni tentang masa kecilnya. "Lalu jorok yang seperti apa. Bu?" Bu Heni kian mendesak. "Si Bungsu sehat-sehat saja kan, Hen!" ucap sang ibu mencoba mengalihkan pembicaraan.

Tentu saja, cerita ibu kandung Bu Heni tidak memuaskan Bu Heni. Di satu sisi. ia memang lega. Karena sudah jelas, suaminyalah yang punya masa kecil seperti si bungsu: rewel! Tapi, apa yang dimaksud ibu kandung Bu Heni tentang masa kecil Bu Heni yang jorok itu?

Setahu Bu Heni, si bungsu malas sekali mandi dan suka main tanah kotor. Tapi, semua itu sudah terbantahkan kalau itu mirip Bu Heni. Bu Heni lagi-lagi bingung. Ia masih sangat penasaran dengan ucapan ibunya soal jorok itu. "Jorok seperti apa, ya?" rasa penasaran Bu Heni kian menjadi.

Bu Heni memperhatikan tingkah si bungsu dari balik kaca jendela. Berlari-larian kesana kemari. Dan suatu kali, si bungsu tampak diam. Ia begitu asyik melakukan sesuatu: jari telunjuknya masuk ke lubang hidung beberapa saat. Setelah itu, jari yang sama masuk juga ke mulut. Dan ini lebih lama dari yang pertama. Terdengar pelan dari mulut si bungsu, "Mmm…, acin!"

"Astaghfirullah!" sontak, mata Bu Heni terbelalak. Rasa penasarannya terasa seperti sudah terjawab. –

Makna Kebenaran Dalam Kehidupan



Di dalam dunia ini mungkin ada satu hal yang disebut kebenaran.

Mungkin ada banyak orang yang berusaha untuk senantiasa mencari kebenaran.
Mungkin ada yang suka bertualang untuk mencari kebenaran.
Berpikir begini dan begitu.
Berpikir ini lebih baik dari yang lain...
Mencoba menelaah
Apakah ini lebih benar?

Kawan...
Aku mengaku disini
Aku bukan seorang yang pandai dan tahu banyak hal.
Aku juga bukan seorang cerdas yang bisa benar-benar paham arti kebenaran.
Aku tidak tahu banyak.
Sedikit sekali...

Aku belum benar-benar paham tentang makna sebuah kebenaran

Namun satu hal yang aku tahu
Dan aku percaya

Bahwa
Di dalam kebenaran pasti ada kasih
Di dalam kebenaran pasti ada damai sejahtera
Di dalam kebenaran pasti tak ada kecurigaan
Di dalam kebenaran pasti tak ada kebencian
Di dalam kebenaran pasti tak ada ajaran untuk merendahkan ajaran lain
Di dalam kebenaran tidak ada doktrin untuk meninggikan kebenaran itu sendiri.

Apakah kebenaran namanya kalau disitu kita malah kita curiga pada golongan lain?
Apakah kebenaran namanya kalau kita malah bersikap ekstrem dan menolak pandangan lain?
Apakah kebenaran namanya kalau aku tidak melihat buah-buah baik terpancar dari dalamnya?
Yang pasti kebenaran absolute hanya ada dari tuhan YME, karena di dunia ini kebenaran dapat di bolak-balik

Sumber dari http://napasbidadari.blogspot. com

Kehidupan Yang Berarti




Berapa umur anda saat ini?
25 tahun, 35 tahun, 45 tahun atau bahkan 60 tahun...
Berapa lama anda telah melalui kehidupan anda?
Berapa lama lagi sisa waktu anda untuk menjalani kehidupan?
Tidak ada seorang pun yang tahu kapan kita mengakhiri hidup ini.
Matahari terbit dan kokok ayam menandakan pagi telah tiba. Waktu untuk kita
bersiap melakukan aktivitas, sebagai karyawan, sebagai pelajar, sebagai
seorang profesional, dll.
Kita memulai hari yang baru. Macetnya jalan membuat kita semakin tegang
menjalani hidup. Terlambat sampai di kantor, itu hal biasa. Pekerjaan
menumpuk, tugas dari boss yang membuat kepala pusing, sikap anak buah yang
tidak memuaskan, dan banyak
problematika pekerjaan harus kita hadapi di kantor.
Tak terasa, siang menjemput..."Waktunya istirahat..makan-makan.." Perut
lapar, membuat manusia sulit berpikir. Otak serasa buntu. Pekerjaan menjadi
semakin berat untuk
diselesaikan. Matahari sudah berada tepat diatas kepala. Panas betul hari
ini...
Akhirnya jam istirahat selesai, waktunya kembali bekerja...Perut kenyang,
bisa jadi kita bukannya semangat bekerja malah ngantuk. Aduh tapi pekerjaan
kok masih banyak yang belum selesai. Mulai lagi kita kerja, kerja dan terus
bekerja sampai akhirnya terlihat di sebelah barat...
Matahari telah tersenyum seraya mengucapkan selamat berpisah. Gelap mulai
menjemput. Lelah sekali hari ini. Sekarang jalanan macet. Kapan saya sampai
di rumah. Badan pegal sekali, dan badan rasanya lengket.
Nikmat nya air hangat saat mandi nanti. Segar segar...
Ada yang memacu kendaraan dengan cepat supaya sampai di rumah segera, dan
ada yang berlarian mengejar bis kota bergegas ingin sampai di rumah.
Dinamis sekali kehidupan ini.
Waktunya makan malam tiba. Sang istri atau mungkin Ibu kita telah menyiapkan
makanan kesukaan kita. "Ohh..ada sop ayam"
. "Wah soto daging buatan ibu memang enak sekali".
Suami memuji masakan istrinya, atau anak memuji masakan Ibunya. Itu juga kan
yang sering kita lakukan.
..Selesai makan, bersantai sambil nonton TV. Tak terasa heningnya malam
telah tiba. Lelah menjalankan aktivitas hari ini, membuat kita tidur dengan
lelap. Terlelap sampai akhirnya pagi kembali menjemput dan mulailah hari
yang baru lagi.
Kehidupan..ya seperti itu lah kehidupan di mata sebagian besar orang.
Bangun, mandi, bekerja, makan, dan tidur adalah kehidupan.
Jika pandangan kita tentang arti kehidupan sebatas itu, mungkin kita tidak
ada bedanya dengan hewan yang puas dengan bisa bernapas, makan, minum,
melakukan kegiatan rutin, tidur. Siang atau malam adalah sama.
Hanya rutinitas...sampai akhirnya maut menjemput.
Memang itu adalah kehidupan tetapi bukan kehidupan dalam arti yang luas.
Sebagai manusia jelas kita memiliki perbedaan dalam menjalankan kehidupan.
Kehidupan bukanlah sekedar rutinitas.
Kehidupan adalah kesempatan untuk kita mencurahkan potensi diri kita untuk
orang lain.
Kehidupan adalah kesempatan untuk kita berbagi suka dan duka dengan orang
yang kita sayangi.
Kehidupan adalah kesempatan untuk kita bisa mengenal orang lain.
Kehidupan adalah kesempatan untuk kita melayani setiap umat manusia.
Kehidupan adalah kesempatan untuk kita mencintai pasangan kita, orang tua
kita, saudara, serta mengasihi sesama kita.
Kehidupan adalah kesempatan untuk kita belajar dan terus belajar tentang
arti kehidupan.
Kehidupan adalah kesempatan untuk kita selalu mengucap syukur kepada Yang
Maha Kuasa ..
Kehidupan adalah ... dll.
Begitu banyak Kehidupan yang bisa kita jalani.
Berapa tahun anda telah melalui kehidupan anda ?
Berapa tahun anda telah menjalani kehidupan rutinitas anda ?
Akankah sisa waktu anda sebelum ajal menjemput hanya anda korbankan untuk
sebuah rutinitas belaka ?
Kita tidak tahu kapan ajal akan menjemput, mungkin 5 tahun lagi, mungkin 1
tahun lagi, mungkin sebulan lagi, mungkin besok, atau mungkin 1 menit lagi.
Hanya Tuhanlah yang tahu...
Pandanglah di sekeliling kita...ada segelintir orang yang membutuhkan kita.
Mereka menanti kehadiran kita. Mereka menanti dukungan kita. Orang tua,
saudara, pasangan, anak, sahabat dan sesama......
Serta Tuhan yang setia menanti ucapan syukur dari bibir kita.
Bersyukurlah padaNYA setiap saat bahwa kita masih dipercayakan untuk
menjalani kehidupan ini. Buatlah hidup ini menjadi suatu ibadah.
Selamat menjalani hidup yang lebih berkualitas.
-----------
hanifa syahida